Mengenal Tebing Tinggi Sumut
Geografi
Menurut Data Badan Informasi dan Komunikasi Sumatera Utara, Kota Tebing Tinggi merupakan salah satu pemerintahan kota dari 33 Kabupaten/Kota di Sumatera Utara berjarak sekitar 80 km dari Kota Medan (Ibu kota Provinsi Sumatera Utara) serta terletak pada lintas utama Sumatera, yaitu menghubungkan Lintas Timur dan Lintas Tengah Sumatera melalui lintas diagonal pada ruas Jalan Tebing Tinggi, Pematangsiantar, Parapat, Balige dan Siborong-borong.
Batas Wilayah
| Utara | PTPN III Kebun Rambutan, Kabupaten Serdang Bedagai | |||||||||||||
| Selatan | PTPN IV Kebun Pabatu dan Perkebunan Paya Pinang, Kabupaten Serdang Bedagai | |||||||||||||
| Barat | PTPN III Kebun Gunung Pamela, Kabupaten Serdang Bedagai | |||||||||||||
| Timur | PT Socfindo Tanah Besi dan PTPN III Kebun Rambutan, Kabupaten Serdang Bedagai |
Tebing Tinggi beriklim tropis dataran rendah. Ketinggian 26 – 24 meter di atas permukaan laut dengan topografi mendatar dan bergelombang. Temperatur udara di kota ini cukup panas yaitu berkisar 25° - 27 °C. Sebagaimana kota di Sumatera Utara, curah hujan per tahun rata-rata 1.776 mm/tahun dengan kelembaban udara 80%-90%.
Hidrologi
Di Tebing Tinggi terdapat empat sungai yang mengalir dari barat menuju timur. Keempat sungai tersebut adalah Sungai Padang, Sungai Bahilang, Sungai Kalembah, dan Sungai Sibaran. Daerah sekitar Sungai Padang dan Bahilang merupakan wilayah potensi banjir, yaitu Kelurahan Bandar Utama, Persiakan, Bandar Sono, Mandailing, Bagelan, Rambung, Tambangan, Brohal dan Rantau Laban.
Walikota Tebing Tinggi Dari Masa ke Masa
| Periode | Nama Walikota | Keterangan |
|---|---|---|
| 1946–1947 | Munar S Hanijoyo | |
| 1948–1950 | Tengku Hasyim | |
| 1950–1951 | Tengku Alamsyah | |
| 1951–1956 | Wan Umaruddin Barus | |
| 1956–1957 | OK Anwaruddin | |
| 1958–1967 | Kantor Tarigan | |
| 1967–1970 | Syamsul Sulaiman | |
| 1970–1974 | Sanggup Ketaren | |
| 1974–1980 | Drs H Amiruddin Lubis | |
| 1980–1985 | Drs H Amiruddin Lubis | |
| 1985–1990 | Drs Rupai Perangin-angin | |
| 1990–1995 | Hj Rohani Darus Daniel SH | Walikota Perempuan pertama di Indonesia |
| 1995–2000 | Hj Rohani Darus Daniel SH | Membawa Tebing Tinggi meraih Piala Adipura 3 kali |
| 2000–2005 | Ir Abdul Hafiz Hasibuan | H Amril Harahap sebagai wakil |
| 2005–2010 | Ir H Abdul Hafiz Hasibuan | H Syahril Hafzein (Wakil) - Pildaka langsung pertama rakyat Tebing Tinggi |
| 2010–2011 | Drs H Eddy Syofian Purba MAP | Penjabat Walikota |
| 2011-2011 | Drs H Hadi Winarno, MM | Plh Walikota pada saat pilkada ulang |
| 2011–2016 | Ir H Umar Zunaidi Hasibuan | Irham Taufik (Wakil) |
Sejarah
Kerajaan Padang
Dimula tahun 1607 dibawah kepemimpinan Iskandar Muda, Aceh semakin
berjaya. Ia menaklukkan Sumatera Timur, Tanah Melayu hingga Melaka guna
menguasai hasil bumi untuk ekspor.
Banyak diturunkan pembesar kerajaan, misalnya Ulèëbalang ke wilayah
Sumatera bagian timur. Sebut saja dua bangsawan Aceh beserta rombongan.
Satu Ulèëbalang kelak menjadi zuriat Datuk Paduka Raja Batangkuis
Kesultanan Serdang, ialah Ulèëbalang Lumu. Sedang satu bangsawan belia mendarat di Bandar Khalifah bernama Umar.
Tidak cukup menaklukkan Bandar Khalifah, Umar menyusuri pedalaman di
hulu Raya. Saat di hutan Tongkah, ia bertemu dengan rombongan Raja Tongkah bernama Guk Guk
ber-clan Saragih yang sedang berburu pelanduk. Sekarang Tongkah ini
bernama Kampung Muslimin dekat Nagaraja kecamatan Tapian Dolok
(Perbatasan Serdang Bedagai dan Simalungun). Salak anjing buruan tak
berani menggigit Umar, karena Umar seperti mampu menundukkan anjing
menyalak. Raja itu terkagum-kagum melihat sosok Umar, lalu mengangkatnya
menjadi putera angkat, karena Raja itu belum memiliki keturunan.
Sebagai anak dari ‘rumpun buluh’ (istilah lain untuk menyebut anak yang diangkat bukan dari pemberian orang tua kandungnya langsung, namun dianggap anak yang diutus Tuhan), kehadiran Umar ternyata membawa tuah, istri raja akhirnya melahirkan. Anak yang dilahirkan tersebut dinamai Raja Betuah Pinangsori.
Di wilayah Tongkah ini, diketahui adanya puing-puing peninggalan zaman Hindu purba, Rajanya pernah membantu temannya bernama Peresah untuk merebut tahta Kerajaan Nagur (Kerajaan sezaman Aru).
Ringkas kisah, Umar akhirnya kembali melanjutkan perjalanannya ke
hilir. Menyusuri hutan Tongkah menuju wilayah Bajenis (kini Kota Tebing
Tinggi). Di wilayah yang berpadang di tempat tersebut, beliau memulai
membangun kekuasaan dengan gelar Baginda Saleh Qamar pada 1630.
Inilah awal berdirinya Kerajaan Padang, awal mula pemerintahan di Tebing
Tinggi dan sekitarnya. Beliau mangkat pada 1640.
Pada zaman dahulu adalah bangsawan bernamanya Guk Guk, dia
pergi berburu pelanduk ke hutan, karena istrinya sedang hamil dan
mengidam ingin memakan pelanduk, maka pergilah Guk Guk bersama orang
kepercayaan kerajaan dan masyarakatnya membawa anjing buruannya. Namun
tak seekor pelanduk atau kancil yang dapat, tetapi ketika hendak pulang
ke kampung, anjing pemburunya tiba-tiba menyalak melihat batang buluh
beruas besar. Buluh itu kemudian dibawa pulang ke rumah.
Saat itu juga
Raja Guk Guk melihat istrinya melahirkan anak laki-laki kemudian diberi
nama Raja Betuah Pinang Seri. Secara bersamaan Raja Guk Guk dikejutkan dengan kemunculan anak laki-laki yang ada di dalam bambu besar yang dibawanya tadi. Anak yang ada di dalam bambu itu kemudian diberi nama Umar Baginda Saleh (pendiri Kerajaan Padang). Karena terjadi perselisihan antara
keluarga, maka Umar Baginda Saleh merantau ke hilir hingga menetap di
wilayah Tebingtinggi sekarang yaitu di Bajenis Tebingtinggi.
John Anderson, tentang Kuala Padang menulis: a considerable sized river. This is an independent state.
Radja Bidir Alum, the present chief, has reigned nineteen years. His
son is Radja Muda Etam. The two principle villages are Bandar Khalifah,
containing 500 inhabitants, and Bundar Dalam, 600 Malays. There are
about 3000 triebe Kataran in the country. The first village is half a
tide up.
Berikut urutan Raja-Raja di Kerajaan Padang:
- Tuanku Umar Baginda Saleh
- Marah Sudin
- Raja Saladin
- Raja Adam
- Raja Syahdewa
- Raja Sidin
- Raja Jamta Melayu gelar
- Marah Hakum gelar Raja Geraha (1853-1870)
- Tengku Haji Muhammad Nurdin gelar Maharaja Muda Wazir Negeri
Padang 1870-1914). Pemangku: Tengku Abdurrahman (Berahman), dengan
ekspansi Deli dalam pemerintahan langsung yang menghunjuk wakil Deli
yaitu Tengku Sulaiman (1885-1888). Tengku Ibrahim dan Tengku Djalaluddin
- Tengku Temenggung Deli (Pemangku 1914-1926).
- Tengku Alamsyah gelar Tengku Maharaja Bongsu (1926-1931).
- Tengku Ismail (1931-1933).
- Tengku Hassim (Tengku Hassim lahir pada 29 Januari 1902 di
- Tengku Izhanolsyah (wafat tahun 1982)
- Tengku Nurdinsyah al-hajj gelar Tengku Maharaja Bongsu (2004 – sekarang)
Tuanku Umar Baginda Saleh yang membuat istana di Bajenis – Tebing Tinggi, memiliki 4 putra yaitu Marah Ledin, Marah Sudin, Marah Alimaludin, Marah Adam; serta seorang putri, yaitu Raja Zaenab yang menikah dengan orang Barus. Setelah Tuanku Umar Baginda Saleh mangkat 1640, Raja beralih kepada Marah Sudin.
Marah Alimaludin memperluas wilayah di sekitar Pabatu hingga watas
Dolog Marlawan. Masa itu Marah Adam turut di Pabatu. Putra Marah Sudin,
yaitu Marah Saleh Safar membentuk wilayah Mandaris hingga watas Tanjung
Kasau. Putra yang lain, Sutan Ali menguasai wilayah Bulian. berikutnya
beraja pula Marah Saladin yang terpusat di Bulian. Di zamannya terkisah
banyak kejayaan, meski umur beliau tidak panjang. Setelah itu dirajakan
Marah Adam, dan 1780 berganti ke Syahdewa, selanjutnya Raja Sidin,serta
Raja Jamta Malayu gelar Raja Tebing Pangeran.
Di masa Raja Jamta Melayu yang sewaktu kecil disebut Marah Titim inilah terbentuk negeri yang bernama Tebing Tinggi hingga beliau bergelar Raja Tebing Pangeran. Di masa beliau 1806 - 1853, Tebing Tinggi banyak berbenah sebagai pusat perdagangan dan tata nilai lainnya.
Di zaman Raja Pangeran ini, banyak berdatangan orang luar Tebing
Tinggi untuk berdagang di Tebing Tinggi, seperti berdagang Getah Balata,
Rotan dan lainnya.
Di zaman ini pula dibangun pelabuhan armada laut di Bandar Khalifah.
Karena Kerajaan Padang yang berpusat di Bulian – Tebing Tinggi menjadi
makmur, Deli mulai ingin mengadakan ekspansi. Menurut catatan; Jamta
Malayu atau Raja Tebing Pangeran mengajak salah seorang putranya Raja Syah Bakar (dialek tempatan menyebut dengan: Raja Syahbokar)
untuk membantu beliau mengatasi upaya ekspansi Deli 1853. Deli dengan
bantuan Bedagai melakukan penyerangan, yang juga melibatkan Panglima Daud, seorang bangsawan kesatria berdarah Bugis.
Raja Padang memimpin perlawanan, peperangan hingga Deli; Bedagai
sebagai sekutunya sangat kewalahan. Peperangan menghitam karena menganak
sungai yang kering, hingga tempat itu selanjutnya lebih popular disebut
Sungai Berong (Berong = Hitam – pinggiran luar Tebing Tinggi).
Dalam sebuah referensi, Titim atau Jamta Malayu gelar Raja Tebing
Pangeran gugur di tangan Panglima Daud. Sumber lain mengatakan bahwa
Raja Tebing Pangeran turut gugur di mata keris milik Kerajaan Padang
yang direbut Panglima Daud di Kampung Juhar – Bandar Khalifah.
Selanjutnya Kerajaan Padang dipimpin Marah Hakum gelar Raja Geraha
yang dibantu pula oleh para pembesar, sebut saja Orang Kaya Bakir yang
sebelumnya sudah memegang jabatan Bendahara. sebutan Raja Geraha bagi
Marah Hakim adalah, karena ia dari zuriat semenda , sebab ayahandanya
adalah berasal dari bangsawan Barus.
Di zaman Raja Geraha 1853 – 1870 ini, Raja mengangkat kerapatan
‘Orang-Orang Besar’ yang dianggapnya berjasa di Kerajaan Padang – Tebing
Tinggi, untuk membantu kepemerintahannya, Misalnya Tengku Bendara,
Tengku Penasihat, Datuk Penggawa, Datuk Syahbandar, Tumenggung, Tungkat,
Mufti, Penghulu, dan lainnya. Tampak nama-nama Tuan Rambutan, Orang
Kaya Syahimbang, Datuk Alang dan lainnya.
Pada 6 Oktober 1865, residen Riau yaitu E Netscher atas nama
Gubernemen mengeluarkan akta yang menetapkan daerah taklukkan
(kewaziran) Kesultanan Deli yaitu Kerajaan Padang, Kerajaan Bedagai,
Denai dan Percut. Raja Geraha tidak setuju, kemudian berhenti dan
digantikan puteranya Marahuddin, oleh Deli diberi gelar Tengku Maharaja Muda Wazir Padang.
Sedang Orang Kaya Majin gelar Indera Muda Wazir Bandar Khalifah yang
menjabat selama 7 tahun lalu wafat dan digantikan puteranya Muda Indera.
Di masa pemerintahan Marahuddin gelar Tengku Haji Muhammad Nurdin
(1870 – 1914), banyak terjadi kerjasama dengan Raya dan lainnya.
Meski
Deli menganggap beliau sebagai Wazir Deli dengan gelar Maharaja Muda,
namun Raja Raya sangat mengakui penuh status raja beliau; bahkan Raja
Raya banyak belajar sistem pemerintahan kepada kerajaan Padang, di satu
sisi kerajaan Padang memperoleh bantuan pasukan dari Raya. Walau pernah
terjadi kisah, saat utusan Tengku Muhammad Nurdin datang ke Raja Raya –
Rondahaim, dengan membawa buah tangan berupa gramafone, Raya Raya menolak mentah mentah buah tangan yang dianggapnya sebagai khazanah kolonial.
Wilayah Tongkah (Kampung Muslimin sekitarnya dekat Nagaraja ), oleh
Tengku Muhammad Nurdin kembali dihidupkan, dengan mewazirkan Tengku
Penasihat, yaitu Sortia - putra Jamta Melayu gelar Raja Tebing Pangeran.
Tengku Sortia membawakan para pekerja penanam tembakau dari etnis
china. Secara berkala Tengku Sortia tetap melaporkan kondisi perkebunan
ke Bulian di Tebing Tinggi (ibu negeri kerajaan Padang) karena beliau
juga Tengku Penasihat, hingga perkebunan ini menjadi aset penting bagi
kerajaan Padang hingga masuk revolusi sosial 1946. Di wilayah Tongkah
ini, Sortia cukup disegani dan dianggap memiliki kharisma tersendiri,
hingga masyarakat etnis Simalungun disana menggelarnya dengan ‘Parmata’
(memiliki mata bathin).
Padang juga lebih mengaktifkan perikanan di wilayah Bandar Khalifah
sebagai pemasukkan lain selain tembakau dari wilayah Tongkah. Zuriat
Raja Tebing Pangeran yang berada di Bandar Khalifah bekerjasama dengan
kaum dari Orang kaya Majin gelar Indra Muda Wazir Bandar Khalifah,
menghidupkan perekonomian kerajaan ini.
Tengku Muhammad Nurdin yang lahir 1836 dan mangkat pada 1918 ini,
ingin agar Tengku Abdurrahman (Burahman), puteranya dari istri Haji
Rahmah (Cik Puang Muncu clan Saragih Raya), untuk menikah dengan puteri
Raja Syahbokar yang masih belajar di Makhtab Pagurawan, yang kemudian
dibawa ke Bulian. Namun beberapa tahun kemudian datang Tengku Achmad -
utusan Sultan Deli, untuk meminta puteri Raja Syahbokar.
Tengku Maharaja Nurdin awalnya menolak lalu dipanggil Sultan Deli ke
Medan, tapi cuma bertemu orang besar bernama Tengku Usup. Karenanya pada
1885 Maharaja Padang – Tengku Haji Muhammad Nurdin diturunkan. Beliau
digantikan puteranya Tengku Burahman yang diawasi Tengku Sulaiman -
Deli.
Muncullah pemberontakan yang turut melibatkan pasukan Rondahaim dari
Raya. Belanda Menilai pemberontakan ini cukup membahayakan hingga 1888,
Tengku Haji Muhammad Nurdin ditahtahkan kembali sebagai Maharaja Padang.
Pada 1914 Maharaja meminta berhenti karena uzur. Putera beliau dari
Puansuri Tengku Syarifah Jawiyah – Kedah, yaitu Tengku Alamsyah masih
berhalangan, maka untuk sementara diangkatlah pejabat, yaitu Tengku
Ibrahim dan Tengku Jalaluddin - Tumenggung Deli, sampai Tengku Alamsyah
berkebolehan. Tengku Alamsyah ditabalkan menjadi raja Kerajaan Padang
dengan gelar Tengku Maharaja Bongsu, 1926. Meski saat Tengku Alamsyah
dinobatkan menjadi Maharaja, Deli berpendapat bahwa turunan Jamta Melayu
gelar Raja Tebing Pangeran lah yang berhak menjadi raja. selanjutnya
menjadi raja Tengku Ismail (1932-1933) dan Tengku Hassim (menjabat
pada1933 – hingga muncul revolusi sosial 1946).
Kerajaan Padang masa itu dihuni penduduk Melayu dan etnis pendatang.
Hingga kini bukti-bukti multi etnisitas itu terlihat dari penamaan
kampung-kampung yang ada di Kota Tebing Tinggi., seperti, Kampung Jawa, Kampung Begelen, Kampung Rao, Kampung Mandailing, Kampung Tempel, Kampung Batak
dan Kampung Keling. Penamaan kampung yang terakhir ini berlokasi di
pinggiran sungai Padang –saat ini terletak di Kelurahan Tanjung
Marulak—menginformasikan bahwa pada masa Kerajaan Padang wilayah itu
sudah di huni salah satu suku bangsa dari anak benua India. Bukti
arkeologis keberadaan etnis anak benua India itu dengan pernah ditemukannya bangkai sebuah perahu bergaya Hindu
mengendap dari kedalaman sungai Padang di Desa Kuta Baru sekira lima
tahun lalu. Namun sayang, bangkai kapal itu hancur karena tidak terawat.
Demikian pula dengan keberadaan Tionghoa telah ada seiring dengan
perkembangan hubungan Kerajaan Padang dengan kerajaan lain. Tionghoa
kala itu, banyak menghuni pinggiran muara sungai Bahilang.
Di samping kedua etnis ini, orang-orang Belanda juga belakangan
menghuni Kerajaan Padang . Ini dibuktikan dengan adanya perkuburan
mereka yang disebut Kerkof (kuburan) di Kampung Bagelen –sekarang di
Jalan Cemara.
Beberapa kampung yang spesifik dari kegiatan penduduk kala itu juga masih terabadikan hingga kini, misalnya Kampung Bicara, Bandar Sono, Kampung Persiakan, Kampung Durian, Kampung Jati, Kampung Sawo, Kampung Kurnia, Kampung Jeruk, Kampung Semut, Kampung Tambangan, Kampung Sigiling dan Kampung Badak Bejuang serta beberapa kampung lainnya.
Batas Kerajaan Padang
Kerajaan Padang berpusat di Tebing Tinggi. Batas laut di wilayah
Bandar Khalifah (kini Kabupaten Serdang Bedagai), hingga ke wilayah
Bartong (kini kecamatan Sipispis, Serdang Bedagai) dan Tongkah (kini
Negeri Bayu Muslimin, Kecamatan Tapian Dolok, Kabupaten Simalungun).
Penduduk
Sebagian besar penduduk Kota Tebing Tinggi, ditempati oleh Suku Melayu 70%, Suku Jawa 15%, Batak 8%, Tionghoa dan lain-lain.
Beberapa peristiwa penting
Kerusuhan Mei 1998
Saat lahirnya Reformasi Indonesia pada Mei 1998, Kota Tebing Tinggi juga tak luput dari kerusuhan terhadap etnis Tionghoa.
Masyarakat yang saat itu tercekik ekonominya karena harga yang
membubung tinggi, beramai-ramai melakukan penjarahan toko-toko milik
etnis Tionghoa.
Pertokoan Jalan Suprapto dan KH Dahlan tak luput dari
penjarahan. Beberapa kilang padi
milik etnis Tionghoa juga dijarah. Dampaknya seluruh pertokoan di
seluruh kota tutup, bahkan selama tiga tahun sejak penjarahan, kota
Tebing Tinggi seperti lumpuh pada malam hari karena tidak adanya toko
yang berani buka pada malam hari.
Banjir Besar 2001
Akhir 2001 banjir besar melanda hampir seluruh pesisir timur Sumatera Utara.
Tebing Tinggi juga tak luput dari bencana ini. Dua sungai besar yang
membelah kota ini: Sungai Padang dan Sungai Bahilang meluap. Selama tiga
hari air merendam dan melumpuhkan aktivitas kota.
Beberapa kendaraan
antar kota dari dan menuju Medan
terjebak banjir dan terpaksa menginap di jalanan kota Tebing Tinggi.
Tidak ada korban jiwa dalam banjir ini, namun kerugian materi tak
terelakan.
Pariwisata
Tempat wisata
| Bagian ini membutuhkan pengembangan |
Tempat wisata di Kota Tebing Tinggi belum banyak tergali. Sebagai
wilayah bekas Kerajaan Melayu Padang, hingga kini masih berdiri bangunan
bekas Istana Kerajaan Padang di Jl. KF Tandean, Bulian. Istana ini masih bertahan walau bukan bahagian utuh lagi. Lokasi Istana yang menuju Pantai Keladi
ini, sekarang diurus oleh waris kerajaan dari turunan Tengku Irwan
Hasyim(Tengku Irwan Hasyim adalah Putra dari Tengku Hasyim, beristrikan
Tengku Ina Nazli, walau beliau juga pernah beristrikan seorang Swedia). Di sisi kiri Istana terdapat Kompleks Pusara Bangsawan Padang.
Masih terdapat beberapa rumah melayu lama di beberapa tempat di Kota Tebing Tinggi, seperti di daerah Bulian Ujung; sebuah Rumah berornamen melayu bekas kediaman Tengku Tokoh.
Di Jl. Syech Baringin, terdapat Makam Tuan Syech Baringin, seorang Sufi yang disegani di wilayah ini pada masanya. Di kompleks makam Sang Sufi masih berdiri Bekas rumah kediamannya yang mirip Rumah Gadang Sumatera Barat. Sayang, Kondisinya sangat memprihatinkan
Di Tebing Tinggi ada beberapa sungai yang berpantai pasir. Walau
tanpa pengembangan lokasi-lokasi ini sering dijadikan tempat wisata
lokal bagi masyarakat tempatan.
Di wilayah Sungai Sigiling dan Batu Ampat, ada terdapat kolam
pemancingan dan kolam rekreasi yang dikelola atas swadaya masyarakat
sendiri.
Di kawasan Kota Bayu, lebih kurang 4 kilometer dari pusat Kota Tebing
Tinggi, sejak April 2012 terdapat kolam renang Bayu Lagoon. Menyediakan
fasilitas tiga kolam renang dimana salah satu kolam untuk anak-anak
dilengkapi dengan papan seluncur. Tempat rekreasi ini juga dilengkapi
musholla, lahan parkir, ATM, dan rumah makan.
Pada Sabtu malam dan Rabu malam, pemuda pemudi banyak juga menghabiskan paruh malam di sekitar Lapangan Merdeka Jl. Sutomo yang dikenal dengan Lapangan Sri Mersing.
Ada sebuah keunikan pada malam-malam Hari Raya, Budaya berkeliling kota dengan beca bisa kita saksikan sebagai sebuah wisata muatan lokal. Sebuah beca bisa berisi 8 hingga 10 penumpang. Hutan
beca sepanjang malam hari raya mempunyai kekhasan tersendiri. Antara
penumpang beca satu dengan penumpang beca yang lain dibenarkan saling
berlempar-lemparan air atau menembak dengan pistol air; tidak ada kemarahan. Entah kapan budaya ini bermulai, tetapi kebiasaan ini berlangsung setiap tahunnya.
Bioskop
Kota Tebing Tinggi pernah tercatat sebagai kota kecil dengan jumlah
bioskop sangat banyak. Di era 1980, kota ini memiliki bioskop Prince Jl
KF Tandean, Bioskop Ria Jl Sudirman, Bioskop Metro Jl Iskandarmuda dan
Bioskop Deli di kawasan pajak mini. Memasuki tahun 1990-an, penggemar
film di Kota Lemang makin terhibur dengan kehadiran Studio 21 yang
memperkenalkan bioskop modern dengan empat studio yang kala itu populer
disebut bioskop kembar.
Makin maraknya pembajakan VCD, DVD dan kerusuhan Mei 1998 akhirnya
membuat bisnis hiburan mati satu persatu. Bioskop Prince, Golden, Studio
21, dan Ria saat ini sudah jadi pertokoan. Sementara Deli Theatre juga
berubah menjadi ruko sarang burung walet.
Selain Studio 21, dari beberapa bioskop yang pernah ada di tebing
Tinggi, Deli Theatre merupakan yang paling modern. Karena dilengkapi
dengan pasar swalayan, dan arena permainan anak yang tersebar di
bangunan berlantai 3.
Pendidikan
Tebing Tinggi Memiliki beberapa Fasilitas Pendidikan Swasta maupun
Negeri.
Beberapa sekolah Swasta yakni : Yayasan Perguruan Inti Nusantara,Yayasan Perguruan F. Tandean,
Yayasan Nasional Budi Dharma, Yayasan Perguruan Kristen Ostrom
Methodist, Yayasan Perguruan Methodist-1, Perg.Nasional Ir.H.Djuanda,
Taman Siswa, RA Kartini, Yayasan STM YPD, Perg.Nasional Diponegoro dan
masih banyak lagi yang tersebar Di Kota Tebing Tinggi.
Tebing Tinggi juga memiliki 10 Sekolah Lanjutan Pertama Negeri.
Antara lain SMP Negeri 1, SMP Negeri 2, SMP Negeri 3 dan Masih Banyak
lagi. Tebing Tinggi juga memiliki 4 Sekolah Lanjutan atas Negeri, dan 4
Sekolah Menengah Kejuruan. Diantaranya SMA N 1, SMA N 2, SMA N 3 dan SMA
N 4. SMK N 1, SMK N 2, SMK N 3, dan SMK N 4.
Kantor Pemerintahan Untuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tebing Tinggi berada Di jalan Gereja No.10 Dan Bersebelahan dengan RS Umum Herna serta didepan Sekolah Swasta Ostrom Methodist.
Prestasi
Tebing Tinggi Juga pernah meraih beberapa Prestasi Domestik maupun
Internasional oleh beberapa Pelajar Kota Tebing Tinggi. diantaranya
Tahun 2010 Salah satu Pelajar SD Sw Ostrom Methodist Pernah menjuarai
Lomba Sempoa Tingkat Asia Tenggara yakni Natalia Miralda Sembiring.
Lalu
Salah satu pelajar Dari SMP Negri 1 yang pernah mendapatkan mendali
perunggu Olimpiade tingkat Nasional. Dan dari segi statistik Nilai Ujian
Nasional, Tebing Tinggi pernah Juga mencatatkan sebagai Kota dengan
Nilai UN tertinggi ke-3 di Sumatera Utara. Serta salah satu Pelajar
Tingkat SD Sw Ostrom Methodist pernah Meraih Nilai UN Tertinggi Ke-3
Se-Sumatera Utara.
Makanan khas
Lemang
Makanan dari kota Tebing Tinggi adalah Lemang. Lemang merupakan makanan dari beras ketan yang dimasak dalam seruas bambu, setelah sebelumnya digulung dengan selembar daun pisang. Gulungan daun bambu berisi tepung beras bercampur santan kelapa
ini kemudian dimasukkan ke dalam seruas bambu lalu dibakar sampai
matang di atas tungku panjang. Lemang lebih nikmat disantap
hangat-hangat, dengan campuran selai bahkan durian.
Pusat penjualan lemang di Tebing Tinggi adalah di seruas jalan bernama Jl. KH Dahlan berseberangan dengan Masjid Raya Tebing Tinggi, masyarakat lebih mengenalnya sebagai Jalan Tjong Afie. Lemang yang paling terkenal adalah Lemang Batok.
Lemang produksi
kota Tebing Tinggi sangat terkenal lezat dan lemak. Karena kelezatannya
itulah kota Tebing Tinggi juga dijuluki sebagai Kota Lemang.
Kue Kacang
Sejak sekitar tahun 2005 di Tebing Tinggi muncul makanan baru, yakni Kue Kacang (di kota lain disebut Bakpia). Kue kacang yang terkenal adalah kue kacang bermerek Rajawali, Beo dan Garuda. Kue kacang banyak dijual di terminal Pajak (Pasar) Mini Tebing Tinggi. Karena kelezatannya dan harga yang ekonomis, Kue Kacang mulai menjadi ikon baru kuliner Tebing Tinggi selain Lemang.
Halua
Halua merupakan manisan khas melayu. Halua bisa terbuat dari Buah Pepaya yang ditebuk atau dibuat anyaman yang disebut Buku Bemban, Pucuk Pohon Pepaya, Buah Paria, cabai, Meregat, Gelugur dan berbagai bahan lainnya. Meskipun tidak menjadi produksi bisnis, Halua akan tetap ada dalam upacara adat maupun lebaran.
Referensi
- ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses 2013-02-15.
- ^ Batas Wilayah Kota Tebing Tinggi
Pranala luar
- (Indonesia) Situs Web Resmi Pemerintah Kota Tebing Tinggi
- (Indonesia) Website Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemerintah Kota Tebing Tinggi
- (Indonesia) Potensi Kota Tebing Tinggi

2 komentar
Casino Site - Online Casino Online at Choegocasino
ReplyChoegocasino is the best 바카라 사이트 online casino for playing from the comfort of your own home! Choose from hundreds 카지노사이트 of different casino games, 메리트 카지노 쿠폰
Kota kelahiran
Reply